Dikirim Oleh hadrian
|| Senin, 24 Desember 2007 - Pukul: 07:22 WIB
Kesulitan membedakan antara Islam dan Arabisme merupakan penyakit akut yang melanda kebanyakan umat Islam di dunia. Kegagalan memisahkan keduanya berimplikasi pada pemahaman bahwa Islam itu satu, yakni Islam Arab. Pluralisme Islam akan dipandang sebagai bid`ah. Kelekatan Islam dengan Arabisme ini telah berlangsung sedemikian jauh sehingga muncul pandangan bahwa kadar keislaman seseorang diukur dari seberapa kental nuansa Arabisme yang mewarnai perilaku keagamaannya. Berdoa dengan bahasa Arab dipandang lebih ”Islam” ketimbang menggunakan bahasa selain Arab (Ajam). Orang yang memakai gamis atau perempuan berjilbab akan dipandang sebagai seorang muslim sejati dibanding dengan yang lain.
Tentang ARAB-ISME
Kesulitan membedakan antara Islam dan Arabisme merupakan penyakit akut yang melanda kebanyakan umat Islam di dunia. Kegagalan memisahkan keduanya berimplikasi pada pemahaman bahwa Islam itu satu, yakni Islam Arab. Pluralisme Islam akan dipandang sebagai bid`ah. Kelekatan Islam dengan Arabisme ini telah berlangsung sedemikian jauh sehingga muncul pandangan bahwa kadar keislaman seseorang diukur dari seberapa kental nuansa Arabisme yang mewarnai perilaku keagamaannya. Berdoa dengan bahasa Arab dipandang lebih ”Islam” ketimbang menggunakan bahasa selain Arab (Ajam). Orang yang memakai gamis atau perempuan berjilbab akan dipandang sebagai seorang muslim sejati dibanding dengan yang lain.
Sesungguhnya amatlah sulit untuk memisahkan Islam dari Arabisme. Karena Islam lahir dan besar di Arab. Perkembangan Islam pertama kali dimulai dari lokal masyarakat Arab. Sehingga pengaruh budaya Arab terhadap Islam sangat kentara sekali. Dalam teks Alquran banyak sekali kita jumpai khitab yang secara langsung ditujukan pada orang Arab. Bahkan 50% dari kandungan Alquran, menurut Moqsith menggambarkan lokal Arab. Namun demikian pengaruh itu bagi Moqsith bukan berarti Islam meniru dan menjiplak apa adanya. Tetapi sebaliknya Islam nampak bermaksud memperbaiki dan memodifikasi budaya tersebut. Hal itu bisa dilihat dari beberapa praktek ibadah yang diakomodir Islam dari budaya Arab. Misalnya thawaf, tradisi jahiliyah mempraktekkannya dengan kondisi telanjang bulat sebagai pertanda ketulusan dan keterusterangan. Dalam Islam hal itu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga nampak lebih religius. Akan tetapi upaya koreksi dan kritisisme Islam terhadap budaya Arab, menurut Moqsith, dalam beberapa hal terjebak pada ambiguitas. Ia mencontohkan pada kasus poligami. Praktek poligami yang berkembang di Arab sebelum Islam secara tekstual diakomodir dalam Alquran. Padahal secara fundamental tujuan perkawinan dalam Alquran sendiri adalah monogami. Hal ini menampkkan adanya semacam dualitas, yang oleh beberapa penafsir modern itu dipahami sebagai proses gradasi penerapan hukum. Namun hal itu menjebak Islam pada pembenaran praktek poligami. Pengaruh Arabisme terhadap Islam muncul ketika terjadi proses sofistikasi Alquran di tangan penafsir. Di samping itu dalam beberapa praktek ritual ibadah juga nampak ada upaya pembingkaian dengan nuansa Arab. Kasus tentang pro kontra shalat, adzan, atau khutbah menggunakan bahasa non Arab tampak sekali menggambarkan dominasi kultur Arab. Imam Syafi’i, salah seorang imam madzhab yang menjadi kiblat mayoritas umat Islam Indonesia, sebagai salah seorang yang ikut andil dalam melakukan Arabisasi pada ajaran Islam. Hal ini terbukti dari upaya Syafi’i untuk menjadikan Arab sebagai standar dalam mengatur kehidupan umat. Contoh kecil yang cukup remeh, misalnya, ditunjukkan oleh Moqsith dalam hal menetapkan halal-haram makanan. Bagi mereka (syafi’iyah) makanan yang halal adalah makanan yang dianggap baik oleh orang Arab. Sebaliknya makanan yang tidak baik bagi orang Arab maka dianggap haram. Praktek Arabisasi Islam ini bukan hanya menjadi sebuah wacana, tapi juga telah direproduksi melalui teks-teks yang ditulis oleh ulama abad pertengahan. Parahnya hal ini diterima oleh umat Islam apa adanya, tanpa dilihat secara kritis. Bahkan kecenderungan ini banyak mewarnai praktek beragama umat Islam sekarang. Inilah yang menjadi keprihatinan kedua pembicara tersebut. Urgensi pemisahan pengaruh budaya Arab terhadap Islam, disebabkan adanya kecenderungan untuk mencampuradukkan antara ajaran agama dengan budaya. Sehingga ajaran-ajaran yang sifatnya partikular telah mengalami proses universalisasi yang luar biasa. Bahkan tidak jarang hal-hal yang merupakan fakta alamiah atau sosiologis telah dinaikkan menjadi fakta agama. Ulil mencontohkan tentang praktek qailulah atau kebiasaan tidur siang Nabi menjelang dzuhur. Praktek tidur seperti itu sering dipahami sebagai ajaran agama. Padahal jika ditelusuri kebiasaan seperti itu lebih dipengaruhi oleh unsur geografis Arab yang cuacanya panasl. Sehingga pada siang hari orang harus beristirahat dari aktifitasnya yang melelahkan. Kebiasaan demikian itu oleh masyarakat non Arab diimport sebagai bagian dari ajaran agama yang harus diikuti dan diteladani. Banyak sekali unsur-unsur budaya Arab lain yang dipahami sebagai ajaran agama, seperti memanjangkan jenggot, menggunakan jubah, surban, penutup kepala, bahkan juga jilbab.
Kekhawatiran lain diutarakan oleh Moqsith. Kecenderungan Arabisme sekarang ini telah masuk dalam regulasi Undang-Undang. Kecenderungan ini menurutnya bukan saja akan mereduksi Islam menjadi hanya berwajah Arab, tapi juga akan menutup kemungkinan untuk mengakomodir masuknya budaya-budaya lain dalam pemahaman agama. Oleh karena itu pemisahan Islam dari Arabisme harus segera dilakukan.
Meskipun Arabisme harus dipisahkan dari Islam, tapi budaya dan peradaban Arab tetap harus diapresiasi. Menurutnya ada dua wajah Arab, pertama adalah Arab yang tertutup dan membenci budaya selain Arab serta menganggapnya rendah. Inilah yang ia sebut sebagai Arab xenophobic. Kedua, adalah Arab sebagai sebuah peradaban yang terbuka dan tidak membenci unsur lain di luar Arab. Sebagai orang yang lama mengenyam pendidikan di bangku pesantren, Ulil sangat tertarik dengan bahasa Arab. Menurutnya bahasa Arab saat ini adalah satu-satunya bahasa kuno yang mampu bertahan dan hidup. Bukan hanya itu, bahasa Arab juga mampu berkembang cukup pesat, tapi tetap tidak menyimpang jauh dari akarnya. Hal ini bisa dilihat dari bahasa Alquran dan bahasa Arab dalam literatur klasik yang masih tetap bisa dipahami oleh masyarakat modern. Bahasa Arab juga mengandung kelenturan luar biasa. Oleh karena itu pemisahan Islam dari Arabismel hanya dilakukan terhadap Arab yang xenophobic. “Apa yang tersisa dalam Islam bila harus dilucuti dari pengaruh Arabisme?Tak ada yang harus dikhawatirkan dengan Islam ketika dipisahkan dari Arabisme karena ketika Islam turun di Arab sebenarnya ia telah mengalami embodiment (pembadanan, pegejawantahan-pen) dengan budaya Arab. Ini terlihat dari bahasa, ekspresi, dan foklor yang digunakan. Oleh karenanya ketika Islam dibawa ke luar Arab, mutlak harus dilakukan reembodiment kembali. Dan menolak reembodiment dapat mengakibatkan keringnya spiritualitas dalam agama.