| Dikirim Oleh TIM Redaksi
|| Jumat, 29 Juni 2007 - Pukul: 05:17 WIB
|
MediaMuslim.Info - Seorang pemuda yang terlalu lama membujang, kadangkala merasa kesulitan untuk mencari calon istri, keberanian untuk bertandang dan meminang seorang gadis menjadi gamang karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya ... pernikahan menjadi sekedar angan-angan karena calon istri belum juga didapatkan. Sulitnya mencari calon istri. "PACARAN" tetap tidak diperbolehkan dan hukumnya haram.
Cinta yang dibungkus dengan pacaran, pada hakikatnya hanyalah nafsu syahwat belaka, bukan kasih sayang yang sesungguhnya, bukan rasa cinta yang sebenarnya, dan dia tidak akan mengalami ketenangan karena dia berada dalam perbuatan dosa dan kungkungan nafsu, adapun manisnya perbuatan dan indahnya perkataan dalam pacaran, pada dasarnya hanyalah rayuan-rayuan belaka yang kosong dan hampa, yang mengandalkan permainkan kata-kata, untuk itu..hati- hatilah...
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya 'berpacaran' terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.
Dengan adanya anggapan seperti ini, maka akan melahirkan konsensus di masyarakat bahwa masa pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar, bahkan merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang hendak memasuki jenjang pernikahan. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berdua-duaan antara dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya HARAM hukumnya menurut syari'at Islam.
Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, melainkan si wanita itu bersama mahramnya" (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari 1862 dan Muslim 4/104 atau 1341 dan lafadz ini dari riwayat Muslim dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma)
Jadi dalam Islam tidak ada kegiatan untuk berpacaran, dan pacaran hukumnya HARAM.
Contoh lain yang juga merupakan pelanggaran yaitu sangkaan sebagian orang yang menganggap bahwa kalau sudah tunangan/khitbah, maka laki-laki dan perempuan tersebut boleh jalan berdua-duaan, bergandengan tangan bahkan ada yang sampai bercumbu layaknya pasangan suami istri yang sah. Anggapan ini adalah salah. Dan perbuatan ini dosa besar. |
NO pacaran
Dikirim Oleh andika (Tamu IP 64.110.141.54) || Selasa, 20 November 2007 - Pukul: 10:09 WIB
Islam di Selandia Baru
Muslim pertama di Selandia Baru adalah penambang emas dari Cina yang bekerja di pertambangan emas Otago pada tahun 1870an. Pada awal abad 19, tiga keluarga Muslim dari Gujarat datang dari India. Kemudian terbentuklah organisasi Islam pertama di Selandia Baru bernama Asosiasi Muslim Selandia Baru (New Zealand Muslim Association/NZMA) di Auckland pada tahun 1950.
Pada tahun 1951 datanglah para perompak laut yang membawa lebih dari 60 Muslim dari Eropa Timur, termasuk Mazhar Krasniqi yang nantinya menjadi presiden NZMA selama dua periode. Orang-orang Gujarat dan imigran Eropa ini bekerja sama dan membeli sebuah rumah yang selanjutnya dijadikan Islamic Centre pada tahun 1959. Pada tahun berikutnya, datanglah seorang ulama Islam dari Gujarat yang bernama Maulana
» Laporkan komentar ini ke administrator
» Balas komentar ini...