Soal Rocky Gerung, Filsafat Racun Bagi Umat, Titik Awal Perpecahan dan Kemunduran

0
1473

oleh : Ezufatrin (direktur NPW)

Ramai mengenai pernyataan Rocky Gerung soal kitab suci adalah fiksi, saya secara pribadi tidak tertarik untuk ikut terjebak dalam narasi yang dibangun oleh Rocky Gerung.

Pernyataan-pernyataannya di ILC nampak bernas dan tajam tidak lain karena permainan logika dan filsafat yang dibangun dan membesarkan dirinya. Jadi adalah sebuah kewajaran jika logika disandingkan dengan realita kekuasaan saat ini nampak logika memenangkan dalam adu argumen. hal ini karena kekuasaan saat ini sangat jelas banyak yang tak dapat dicerna oleh akal sehat.

Menjadi catatan besar bagi umat Islam yang selama ini berada dibarisan oposisi tirani kekuasaan untuk sedikit lebih jeli dalam melihat bahwa musuhnya musuh belum tentu teman.

Sama seperti ketika kita membenci kapitalis tidak lantas kita menggunakan pisau analisisnya komunis dalam menentukan hak dan batilnya kapitalis. Meskipun komunis adalah musuh bebuyutan kapitalis. Lantas dengan apa kita membenci kapitalis, tidak ada jawaban lain kecuali dengan Islam. Apa yang buruk menurut Islam adalah buruk, apa yang baik menurut Islam adalah baik, baik kapitalis maupun komunis setuju ataupun tidak.

Sekali lagi saya ulang, musuhnya musuh belum tentu adalah teman. Bisa jadi malah musuh yang lebih keras permusuhannya.

Rezim ini buruk menurut Islam dan kebetulan buruk menurut filsafatnya Rocky gerung, umat jangan sampai terjebak dengan dialektika yang selalu didengungkan oleh Rocky, karena banyak juga dari dialektikanya yang sangat jauh dari konsepsi keimanan Islam.

Kita coba melihat sedikit relaita filsafat, jangan sampai kita terjebak oleh perkataan-perkataan filsafat yang nampak indah namun membunuh Iman lantaran kita terbawa emosi memusuhi tirani.

Dahulu aqidah umat Islam pada masa sahabat tidak serumit setelah umat Islam ini mengenal filsafat. Perkembangan Islam yang begitu cepat dan besar hingga menjadikan kekuasaan Islam sampai kepada Yunani yang notabene adalah gudangnya para filosof.

Ketika berinteraki dengan para filosof kaum muslimin mulai terjadi pergolakan pemikiran yang sangat sengit. Hal ini dikarenakan para penganut filsafat mengangap akalnya tak memiliki batas.

Pada awalnya para ahli filsafat dan ahli kalam belum menemukan makna dari al-‘aql (akal) yang sebenarnya. Mereka belum mampu mendefenisikan akal dan apa batas-batas akal. Sehingga ketika mereka belum menemukan makna tersebut, akibatnya mereka menggunakan akal tanpa batas.

Akhirnya, sebuah perkara yang bisa dicerna oleh akal dan maupun tidak, dipadukan dengan Ilmu Mantiq (logika) dan digunakan secara sembarangan. Sehingga batasan antara keduanya tidak memiliki batas yang jelas.

Contoh dialektika yang diketengahkan oleh mereka tentang pertanyaan antara lampu dan cahaya, mana dari keduanya yang lebih dahulu. Jawabannya ialah secara bersamaan, ini dinamakan sebagai teori emanasi. Teori emanasi ini dipakai dengan pemikiran para ahli filsafat untuk menyatakan bahwa adanya alam ini muncul secara bersamaan dengan adanya Tuhan.

Hal tersebut ditulis di dalam kitabnya Al-Farabi seorah ahli filsuf dari Farab, Kazakhstan. Kemungkinan lain, Al-Farabi adalah seorang penganut Syiah Imamiyah, pembahasan tentang kalam dan filsafat ini akhrinya masuk ke berbagai aspek, dalam aqidah, ushul fiqih, dan sebagainya.

Aqidah seharusnya yang merupakan sesuatu yang qoth’i (paten) dan tidak ada perdebatan di dalamnya. Akan tetapi kemudian dimasuki oleh ilmu filsafat dan kalam, sehingga tidak lagi qoth’i atau meyakinkan, dan terjadilah perdebatan.

Akal yang seharusnya membatasi diri pada pembahasan eksistensi Allah namun dengan filsafat akhirnya masuk jauh ke pembahasan Dzatnya Allah. Lebih parah lagi filsafat memasuki arena kekuasaan Allah, apakah Allah yang memaksa manusia berbuat atau manusia yang berbuat dengan bebas tanpa ada interpensi dari Allah.

Ilmu kalam dan filsafat ini tidak lain hanya manhaj “qiila wa qaala” (perkataan dari orang ke orang). Sembari mengutip pengakuan Imam Ar-Razi yang berkata, “Setelah aku menerjuni ilmu kalam, tidak ada yang aku dapatkan dari Ilmu Kalam kecuali “qiila wa qaala” katanya dan katanya.”

Justru fakta yang kita temui adalah filsafat merupakan pihak yang paling besar andilnya dalam perpecahan ditubuh umat Islam. Akidah umat menjadi tercerai berai dan menimbulkan permusuhan yang tiada hentinya ketika umat Islam telah masuk dalam jebakan-jebakan pertanyaan filsafat. Umat dibawa hanyut memikirkan tentang apa yang tak kuasa difikirkan akal. Lebih parahnya lagi tidak sedikit umat Islam yang akhirnya merasa puas dengan hasil berkhayalnya filsafat dan dipegangnya sebagai sebuah kebyakinan.

Metode berfikir Islam yang khas dan murni, yang merupakan sebab awal kebangkitan generasi para sahabat mulai mereka tinggalkan dan mengambil filsafat atau hasil-hasil metode berfikir filsafat sebagai jalan hidup mereka.

Terkait ilmu kalam atau filsafat ini, Imam Al-Ghazali pernah memberikan nasehat agar berhati-hati ketika mendalami Ilmu Kalam.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Ustadz Felix Siauw: Bahaya Jika Alquran Dianggap Fiksi, “Alquran itu Kalamullah”

“Di akhir hayatnya beliau menulis buku Iljam al-‘Awam ‘an ‘Ilmi al-Kalam (Jauhkan orang awam dari ilmu kalam). Menggambarkan peringatan beliau terhadap ilmu kalam, dan dampaknya terhadap masyarakat umum,” jelasnya. [Dakwahmedia.co]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here